Seorang kekasih Allah sedang khusyu’ berdoa munajat memohon putra kepada Yang Maha Memberi sebab sampai usianya ke 50 beliau belum dikaruniai keturunan.”
Ya Allah, berilah aku keturunan dan jangan engkau biarkan aku sendiri tanpa ahli waris” demikian isi doa kekasih Allah ini. Ternyata doanya kali ini diterima Sang Maha Pemberi. Dua bulan kemudian tampak tanda kehamilan istrinya. Betapa bersukurnya kekasih Allah itu siang malam tiada henti berucap syukur penantian 20 tahun semoga terwujud. Setelah 9 bulan waktu kelahiran pun sudah dekat. Persiapan telah dilakukan semua sarana dan prasarana komplit maklum putra pertama. Tepat jumat subuh “Oe…oe…oe…” yang ditunggu pun nongol bayi laki-laki mungil penyejuk hati telah hadir di bumi Tuhan.
“Alhamdulillah……” kata sang kekasih Allah itu. Semua ritual menyambut bayi yang baru lahir dilaksanakan dari adzan, iqomah, pembacaan ayat-ayat al-quran, aqiqah dsb. Sanak handai tulan hadir dalam perayaan tersebut ucapan selamat mengalir seperti banjir bandang. Senyum dan tawa tanda bergembira dipadu dengan bunyi rebana dan lantunan selawat dalam acara aqiqah putra pertama sang wali.
Mimpi Kekasih Allah Yang Pertama
Setelah itu semua, malamnya kekasih Allah itu bermimpi seakan-akan dia sedang dipanggil menghadap Allah SWT dalam satu sidang seperti terdakwa menunggu vonis hukuman.
“ Hai Fulan, telah tiba saatnya kamu mengetahui bahwa takdir Tuhan atas anakmu hanya berumur 4 tahun saja”. Sang Kekasih Allah terkejut dan tersentak bangun dari tidurnya dia mengusap keningnya yang bekeringat.
“Astaghfirullahal ‘adhim……astaghfirullahal’adhim…..” kalimat istighfar itu dibacanya berulang-ulang. Kekasih Allah itu tidak bisa tidur hingga adzan subuh berkumandang. Paginya dia merenung mengingat kembali mimpi tadi malam.
“Ada apa ini ? “ kata hatinya.
“Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena lupa atau kesalahanku.” pintanya dalam munajat. Malam harinya dia bermimpi kembali.
“Hai Fulan, telah tiba saatnya kamu mengetahui bahwa takdir Tuhan atas anakmu hanya berumur 4 tahun”. Kekasih Allah tersentak bangun dari tidurnya
“Astaghfirullahal’adhim…masya Allah…Ya Allah, apakah mimpi ini haq dariMu ?” Wali tersebut segera berwudlu dan menghadap Tuhannya. Besok harinya kekasih Allah itu mengoreksi dirinya sendiri, menghitung kesalahan-kesalahannya di hadapan Tuhan dari semenjak baligh hingga saat ini barangkali ada dosa-dosa dan kesalahan sehingga Tuhan murka dan berkeinginan mengambil kembali titipan yan baru saja diberikan.
“Ya Allah janganlah Engkau timpakan kepada kami beban seperti Engkau timpakan kepada umat-umat terdahulu”. Besok malamnya sang kekasih Allah ini bermimpi lagi. Sekarang mimpinya lebih mencekam lagi. Dia bermimpi palu hakim telah diketuk dan vonis telah dijatuhkan. Pada persidangan langit itu dia melihat putranya berumur 4 tahun diambil paksa dari gendongan ibunya dan dibawa masuk ke sebuah ruangan yang dikelingingi kaca-kaca tebal. Tampak beberapa anak sedang bermain-main bersama seprang kakek yang mengasuh mereka. Kekasih Allah itu mengetuk keras kaca itu tapi tidak ada yang menoleh ke arahnya. Setelah susah payah dia mengetuk kaca itu muncullah anaknya berlari menuju gerombolan anak-anak kecil yang sedang bermain. Sang ayah melihat putranya dengan sedih tanpa bisa melakukan apapun. Ditengah kesedihan tiba-tiba putra kekasih Allah itu menoleh ke arahnya dan dia pun terbangun dari mimpinya. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat. Sang kekasih Allah segera melihat putranya di kamar ibunya. Ternyata putranya masih ada disitu sedang menetek di pelukan ibunya. Kekasih Allah itu terduduk lemas,
“Ya Allah, janganlah Engkau bebankan kepada kami apa yang kami tidak sanggup untuk memikulnya, berilah kami maaf, ampunilah kami, kasihanilah kami, Engkaulah Pelindung kami, tolonglah kami atas kaum kafir”. Doa ini dibacanya berulang-ulang. Esok malamnya kekasih Allah itu tidak mendapatkan mimpi lagi, begitu juga malam berikutnya seakan-akan mimpi itu telah selesai dalam tiga hari berturut-turut. Dia konsultasikan mimpi ini kepada teman-temannya tapi tidak ada satupun yang berani mengomentari mimpi tersebut. Hari demi hari pun berlalu, sang wali belum bisa melupakan mimpi itu. Gambaran itu melekat erat dalam benak sang wali.
Mimpi Kekasih Allah Berikutnya
Kini usia putranya hampir empat tahun. Putranya tumbuh besar dan sehat layaknya anak-anaknya yang lain. Sang wali memandangi anaknya yang sedang berlari kesana kemari bermain bersama teman-temannya. Dalam hatinya ayahnya ada sedikit kecemasan kalau-kalau mimpi itu benar-benar jadi kenyataan. Selama ini pula kekasih Allah itu tidak henti-hentinya memohon welas asih Tuhan agar sudi kiranya memanjangkan usia putranya itu. Setiap malam sang wali merintih menangis memohon belas kasihan Tuhan hingga suatu malam dia bermimpi disidang kembali tetapi kali ini persidangan tersebut seperti diadakan ditempat arena adu ketangkasan. Sang hakim berkata :
“Hampir empat tahun sudah dan selama itu pula kami selalu menerima surat pengajuan banding darimu. Baiklah …permohonan bandingmu kami terima tapi dengan satu syarat, kamu harus memenangkan perlombaan memanah apel yang akan kami selengarakan minggu depan. Jika kamu bisa memenangkan perlombaan ini maka buah apel itu menjadi milikmu dan permohonanmu dikabulkan”. Sampai disini kekasih Allah itu terbangun, badannya basah kuyup oleh keringat
.”Aku harus menang , aku tidak boleh kalah” dalam hatinya berkata begitu. Dia paham betul isi mimpi itu dan dia bertekad tidak akan pernah menceritakan mimpi itu kepada siapapun. Esok paginya dia berpamitan pada istrinya hendak pergi ke suatu tempat selama satu minggu. Istrinya paham akan kemauan sang wali sebab ini sudah merupakan kebiasaan suaminya jika menghadapi hal-hal yang penting.
”Berapa hari, pak ?” Tanya sang istri.
“Satu minggu”
“Kok tumben agak lama, biasanya cuma tiga hari”. Kekasih Allah itu tidak menjawab tapi dari raut wajah suaminya itu si istri paham bahwa permasalahan yang dihadapi suaminya kali ini cukup serius. Setelah semua perbekalan disiapkan sang Wali mencium kening istrinya dan ubun-ubun anaknya.
”Ayah…ayah…ayah mau kemana?” tanya anak.
“Ayah mau ambil buah apel untuk kamu” jawab ayah.
“Aku ikut , yah”
“Tidak usah, di rumah saja. Jaga ibumu ya”.
Kekasih Allah Mengikuti Sayembara
Kekasih Allah itu pun berangkat ke suatu tempat yang ia biasa bermunajat disitu. Siang dia berpuasa malamnya dia berdoa hingga pagi. Demikian yang dia lakukan setiap hari. Hingga malam ke 7 ditengah-tengah munajatnya dia tertidur dan bermimpi berada ditengah arena perebutan apel. Tampak satu buah apel ditaruh diatas tonggak setinggi pohon pepaya. Peraturannya adalah siapa yang paling cepat bisa mengenai buah apel tersebut dengan panah maka dialah pemenangnya. Jarak antara buah apel dengan pemanah kira-kira 500 langkah. Ada 7 peserta yang mengikuti sayembara itu termasuk sang kekasih Allah dan masing-masing peserta diberi 3 buah anak panah yang berlainan warnanya artinya mereka hanya diberi 3 kali kesempatan untuk bisa mengenai buah apel itu. Sang wali menerima anak panah berwarna biru dengan tanda jengger ayam jago warna merah di sebelah depan anak panahnya. Kini mereka telah bersiap-siap, anak panah telah dipasang dan tali busur pun ditarik. Gong pun ditabuh segera anak panah berluncuran menghujam kearah apel tersebut dan…cep…bug…apel itu jatuh terpental dengan anak panah ditengahnya. Dari jauh tidak terlihat jelas warna anak panah yang ada ditengah buah apel itu, sekilas warnanya hijau sekilas biru dan tandanya pun samar. Para pemanah mendekati buah apel tersebut. Tampak anak panah berwarna hijau berada ditengah buah apel. Buah apel tersebut segera diambil oleh hakim dan tibalah saatnya mengumumkan siapa pemenangya. Buah diangkat, panah warna hijau dengan symbol bunga kuning terlihat membelah buah apel panah itu. Ketika anak panah dan buah apel itu hendak diserahkan kepada pemenangnya tiba-tiba saja warna anak panah itu sedikit demi sedikit berubah menjadi warna biru dan simbolnya bertukar dengan jengger ayam warna merah. Anak panah berwarna biru dengan jengger merah adalah kepunyaan kekasih Allah. Akhirnya anak panah itu pun diserahkan pada kekasih beserta buah apel dan dinobatkan sebagai pemenang.
“Kamu telah memenangkan perlombaan ini dengan belas kasih Tuhan. Permohonanmu dikabulkan sekarang terimalah hadiah dari kami”. Hakim menyerahkan hadiah berupa sekeranjang apel. Kekasih Allah itu menghitung isi keranjang ternyata ada 40 buah apel. Dia segera bersungkur sujud sebagai tanda syukur dan ternyata wali itupun terbangun dari mimpinya juga dalam keadaan bersujud. Terjawab sudah permohonannya selama ini disimpannya mimpi itu dengan baik dan dibawanya pulang pesan yang berharga itu.
Tamu Kekasih Allah
Sampai di rumah dipandanginya putranya yang sedang tidur dibelainya dengan lembut sambil berdoa memohon kepada Sang Maha Pencipta kelak putranya menjadi anak yang soleh.
Nanti malam genap putranya berumur 4 tahun. Apakah ada yang datang ? Kekasih Allah itu tersenyum memikirkannya, tampak wajahnya berseri-seri.
“Assalamu’alaikum” terdengar suara berat dari luar.
“Wa’alaikumsalam. Siapa ?” sang wali melirik ke arah pintu. Tampak seseorang berpakaian jubah putih berdiri di depan pintu. Tamu itu tidak menjawab.
“Masuk !” kata sang wali. Masuk ? Pintu tidak dibuka tetapi sang wali sudah mempersilahkan tamu itu masuk. Bagaimana masuknya ? apa pintunya dibuka sendiri ? Tiba-tiba tamu berjubah putih itu sudah berada didalam. Kekasih Allah itu tidak terkejut dengan pemandangan ini, sepertinya dia sudah tahu siapa yang datang.
“Siapa kamu dan untuk apa kamu datang kemari ?”
“Saya adalah utusan Allah yang diberi tugas untuk menjemput putra tuan” jawab tamu itu.
“Apa nggak salah ? coba dicek lagi barangkali salah alamat” jawab sang wali dengan tenangnya.
“Tidak mungkin salah sebab sudah tertulis dalam catatan takdir putra tuan dan sekarang sudah waktunya putra tuan kembali ke Rahmatullah”
“Ente pasti salah orang, salah alamat, salah waktu. Coba dicek sekali lagi ke lauhul mahfuz, barangkali ente salah baca. Nanti kalau benar, ente kemari lagi dan silahkan jemput putra saya”
“Baik, tuan, saya akan periksa kembali. Assalamualaikum”. Setelah berpamitan orang berjubah putih itu pun berjalan keluar tanpa membuka pintu dan begitu melangkah diluar pintu, sudah tidak terlihat lagi.
“Siapa, yah ? Apa ada tamu ? Tadi aku dengar sepertinya ada yang omong-omong ? ” tanya istrinya dari dalam kamar.
“ Ah…barangkali kamu salah dengar. Sudah kembali saja tidur, besok kamu kesiangan lho ?” jawab suaminya sambil menahan diri. Si istri pun kembali tidur. Malam pun semakin larut, tiba-tiba …..
“Assalamu’alaikum Warahmatullah”
“Wa’alaikumsalam Warahmatullah, silahkan masuk”. Ternyata pria berjubah putih datang kembali dan sudah berada di dalam rumah.
“Maaf , wahai Kekasih Allah, saya telah kembali ke langit untuk memeriksa catatan takdir putra tuan dan disana tertulis bahwa malam ini putra tuan diminta kembali oleh Penciptanya”
“Hmm…aku kan sudah bilang kalo kamu itu salah baca, salah alamat, salah orang. Coba kamu periksa dulu yang benar buku catatannya, kalau perlu tanya sama teman-teman disana. Jangan-jangan kamu nggak bisa baca ya ? Kalo kamu salah ambil gimana ? Kamu bisa ngembali-in ?”
“Baik, tuan, akan saya periksa lagi dan jika ternyata benar, ijinkan saya menjemput putra tuan”
“Oh…silahkan, manusia itu kan milik Allah dan pasti akan kembali kepadaNya”.
“Assalamu’alaikum, wahai Kekasih Allah”
“Wa’alaikum salam, wahai pesuruh Allah”
Nego Dan Doa Kekasih Allah
Setelah malaikat pencabut nyawa itu pergi, sang kekasih Allah bermunajat, “Ya Allah, segala yang Engkau cipta adalah haq. Bumi ini haq, langit pun haq. AgamaMu haq, RasulMU haq. Surga itu haq, neraka pun haq. Tiada yang sia-sia dari ciptaanMu. Engkau yang menciptakan alam semesta ini dan Engkau pulalah yang menghancurkannya. Tiada satupun yang ada di semesta ini kecuali akan musnah. Hanya Engkaulah yang abadi, tanpa permulaan, tanpa akhiran. Wahai Dzat Yang Maha Perkasa, tidak ada kemustahilan bagiMu dalam sifat dan perbuatanMu. Sangat mudah bagiMu untuk merubah satu ketetapan, karena selain DzatMU, semua ini adalah jaiz keberadaannya. Wujud dan sifatMu lah yang wajib tidak akan pernah berubah selama-lamanya. Wahai Tuhan Semesta Alam, hambaMu yang hina dina ini datang keharibaanMu untuk menagih janji yang telah Engkau berikan. Engkau telah berkata dan perkatanMu haq bahwa Engkau tidak akan mengingkari janji. Ya Allah…” belum sempat kekasih Allah itu mengakhiri munajatnya tiba-tiba…
“Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh”. Kekasih Allah itu pun terpaksa memberhentikan munajatnya dan menjawab salam,
“Wa ‘alaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh, silahkan masuk !”. Pria berjubah putih yang tadi itu pun segera masuk. Seperti biasa dia masuk tanpa harus membuka pintu.
“Maafkan saya, wahai kekasih Allah. Sepertinya saya tidak akan berlama-lama disini. Tugas ini harus segera saya jalankan sebab kalau dihitung waktu, saya ini sudah terlambat. Jadi ijinkan saya untuk membawa putra tuan menghadap Sang Mah Kuasa” kata malaikat pencabut nyawa itu sambil mendekati kamar tidur.
“E…e…e…e…sebentar, sebentar. Jangan tergesa-gesa dulu. Kalau memang demikian, baiklah…tapi dengarkan omongan saya dulu. Menurut yang saya ketahui, men-tiga kalikan suatu perbuatan yang baik termasuk sunah Rasulullah SAW. Contohnya seperti membasuh wajah ketika berwudlu, mengguyurkan air ke badan ketika mandi, membaca tasbih dalam ruku’, sujud dsb. Apalagi urusan cabut-mencabut nyawa, ini bukan urusan sepele…”
“Maksud tuan ?”, tanya si malaikat pencabut nyawa.
“Begini…kamu kan baru dua kali memeriksa buku takdir anak saya ? Alangkah baiknya kalau diperiksa sekali lagi, jadi tiga kali sebab tiga kali itu termasuk sunah Rasulullah SAW. Tapi kalau boleh sebenarnya saya mau kasih saran sama ente supaya ente nanti nggak dimarahin sama Big Boss karena terlambat…”
“Big Boss…? Siapa itu, tuan ?”
“ Ya siapa lagi kalau bukan Allah; Rabbul ‘izzah Jalla Jalaluh”
“Oh…iya, iya…mau, mau…saran apa, tuan ?”
“Saran saya, ente langsung bertanya saja kepada Big Boss ;Yang Mencipta dan Meniadakan, sebab Dialah yang menentukan ajal semua ini. Kalau yang terakhir ini nggak mungkin salah. Kalau tulisan bisa saja salah, betul nggak ?”
“Jadi saya bertanya langsung kepada Allah SWT ?”
“Ya, begitulah. Kalau ini tidak mungkin salah dan kamu nggak akan kena marahNya, bahkan kamu akan diangkat derajatnya dan diberi gelar kehormatan sebagai Malaikat super hati-hati ”
“Baiklah kalau begitu saya akan bertanya langsung kepadaNya. Tetapi jika jawabannya sama dengan yang tertulis maka tidak ada alas an lagi bagi saya untuk menunda untuk ketiga kalinya”
“Ouw…kalau yang ini saya mana berani. Sudah barang tentu saya akan melepas putra saya sebab sudah diminta oleh Yang punya”
“Kalau begitu saya permisi. Assalamu’alaikum”. Pria berjubah putih itu pun lenyap. Setelah malaikat pencabut nyawa pergi, Wali Allah itu meneruskan munajatnya,
“Ya Allah, jika isyarat yang Engkau berikan lewat mimpi itu haq dariMu maka rubahlah takdir anakku, panjangkanlah umurnya dan berilah hambamu yang hina ini kesempatan untuk mendidik titipanMu dan menjadikannya sebagai tabungan amal kebaikan hamba ketika hamba mati. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih, aku beranikan diriku yang kotor ini mengetuk pintu ijabahMu, memohon belas kasihMu. Jika doa ini Engkau kabulkan maka Engkaulah Sang Maha Pemberi namun jika Engkau tolak, kepada siapa lagi aku meminta” sampai disini tiba-tiba….
To be Continued in part 2…




KISAH UWAIS AL-QARNI (PEMUDA YANG BERBAKTI KEPADA IBUNYA)
Kisah Nabi Musa dan Anak Yang Berbakti
Cerita Kekasih Allah Part 2 (lanjutan….)
Kisah Hadirnya Malaikat Maut Pada Detik-detik Wafatnya Rasulullah SAW
Biografi Anas bin Malik ; Pembantu Rasululah SAW

Ass, Pak Ustad
Pak Ustad saya menunggu Pat 2 tad?
Tolong ya dikirimi, saya lagi butuh teladan.
Wasalam
BSB Santos
ya, nanti tak postingi. Minta doanya Ya …
Insya Alloh Tad…
Semoga Alloh Melimpahkan Teladan bagi Ustad
Salam
BSB Santos
sudah saya tulis untuk kelanjutan ceritanya silahkan dibaca http://adehumaidi.com/pendidikan/cerita-kekasih-allah-part-2-lanjutan
yg saya tau kekasih allah itu nabi muhamad, ini ko ad kekasih allah lg, mohon penjelasan ustad. . .
Nabi Muhammad Saw itu kekasih Allah juga utusan Allah. Kekasih Allah adalah oarang yang dikasihi oleh Allah yang mendapat tempat mulia dan dekat disisi Allah. Jadi setiap Nabi dan Rasul adalah kekasih Allah tapi tidak setiap kekasih Allah menjadi nabi dan rasul. Bisa dipahami? Kekasih Allah itu banyak bahkan tidak terhitung jumlahya bahkan kamu pun bisa menjadi kekasih Allah.
maaf pak ustad, pertanyaan saya yg kemarin ko hilang ya. . .
Pertanyaan yang mana ya?
Assalamualaikum,
Terima kasih atas ceritanya Pak Ustad,benar2 penyejuk iman,klo boleh saya mau copy buat di ebook saya, mau menceritakan kembali buat anak2 saya,karena jika menggunakan internet agak susah dibawa kemana mana,,,ini jika berkenan,namun kalau tidak berkenan tidak apa-apa,terima kasih
wa’alaikum salam, ya silahkan saja.